“Pembocor Ulung” Ungkap Keberadaan Penerus Galaxy Note 7

Setelah kegagalan Galaxy Note 7 yang terpaksa ditarik kembali dari pasaran karena rawan terbakar, banyak pihak memprediksi bahwa Samsung tak bakal melanjutkan perangkat seri Galaxy Note.

Namun mungkin bukan itu yang bakal dilakukan Samsung.

Kabar yang dirangkum KompasTekno dari GSM Arena, Minggu (13/11/2016) menyebutkan bahwa perangkat Samsung bernomor model SM-N950 sedang dikerjakan oleh Samsung.

“SM-N950” diperkirakan tak lain dan tak bukan adalah seri Galaxy Note berikutnya. Galaxy Note 7 diketahui memiliki nomor model SM-N930.

Informasi tersebut diungkapkan oleh Evan Blass yang dikenal sebagai “pembocor ulung”. Lewat akun Twitter miliknya, @evleaks, Blass kerap kali mengedarkan bocoran akurat mengenai gadget baru yang belum meluncur.

Follow
Evan Blass ✔ @evleaks
Samsung Galaxy S8 models are indeed skipping SM-G94* model numbers, will ship as SM-G950 & SM-G955. Know what else is in the works? SM-N950.
2:15 AM – 10 Nov 2016
137 137 Retweets 365 365 likes

Selain keberadaan seri Galaxy Note berikutnya, Dia turut mengungkap nomor model Galaxy S8.

“Samsung Galaxy S8 memang akan melompati nomor model SM-G94* dan akan dikapalkan sebagai SM-G950 dan SM-G955,” kicau Blass.

Mengingat insiden recall telah cukup merusak reputasi Galaxy Note, belum diketahui apakah Samsung bakal mengganti brand tersebut dengan nama baru atau tidak. Belum ada informasi lain seputar Galaxy Note baru kecuali nomor model di atas.

Akan halnya Galaxy S8, rumor yang beredar sebelumnya menyebutkan perangkat ini bakal dilengkapi teknologi asisten virtual bernama Bixby, berikut deretan spesifikasi kelas atas seperti chip Exynos 8895 atau Snapdragon 830.

Layar iPhone 8 Bakal Melengkung dan Tanpa Bingkai?

Bentuk fisik iPhone relatif tak berubah sejak iPhone 6 yang muncul tiga tahun lalu hingga iPhone 7 terkini. Tahun depan, Apple diprediksi bakal menerapkan desain baru pada iPhone 8.

Tepatnya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari MacRumors, Minggu (13/11/2016), duo iPhone 8 dan iPhone 8 Plus disinyalir akan memiliki layar “tanpa bingkai” (bezel-less) dan melengkung di sisi-sisinya.

Prediksi itu diungkapkan oleh analis Barclays Research Blayne Curtis, Christopher Hemmelgarn, Thomas O’Malley, dan Jerry Zhang.

Ukuran layar dua iPhone masa depan ini diduga akan ikut meningkat. “Layar iPhone 8 menjadi 5 inci (dari sebelumnya 4,7 inci, sementara iPhone 8 Plus menjadi 5,8 inci (dari sebelumnya 5,5 inci),” sebut para analis tersebut dalam nota risetnya, mengutip sumber dari pemasok komponen Apple di Asia.

Disebutkan pula bahwa Apple bakal menggunakan teknologi layar OLED di varian iPhone 8 Plus (dengan layar 5,8 inci), sementara iPhone 8 “reguler” tetap memakai layar LCD.

Dibandingkan layar LCD konvensional, panel display OLED menawarkan tingkat ketajaman dan kecerahan yang lebih tinggi, tapi konsumsi dayanya lebih rendah. Layar OLED iPhone diduga bakal dibuat oleh Samsung dan LG, juga Sharp yang dimiliki oleh Foxconn.

Perkiraan di atas sesuai dengan prediksi Ming-Chi Kuo sebelumnya, sang analis KGI Securities yang dikenal seringkali “meramal” produk Apple dengan akurat.

Apple sendiri telah lama disebut-sebut bakal menerapkan desain bezel-less pada duo iPhone 8 tahun depan. Rancangan “layar tanpa bingkai” ini belakangan dipopulerkan kembali oleh Xiaomi lewat smartphone Mi Mix, setelah sempat muncul di produk Sharp Aquos Crystal.

Facebook Sebut Mark Zuckerberg Sudah Meninggal

Laman Facebook Mark Zuckerberg tampil mengejutkan pada Jumat kemarin. Sang pendiri jejaring sosial itu terkesan sudah meninggal dengan munculnya sebuah banner “Memorial” berjudul “Mengingat Mark Zuckerberg”.

“Kami harap mereka yang mencintai Mark akan merasa lebih nyaman dengan hal-hal yang dibagikan orang untuk mengingat dan merayakan hidupnya,” tuilis pesan dalam banner tersebut, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Guardian, Minggu (13/11/2016).

Ternyata bukan hanya Zuckerberg saja yang dikabarkan sudah meninggal. Sebagian pengguna Facebook turut terkaget-kaget mendapati banner Memorial serupa menggantung di laman masing-masing. Padahal mereka masih hidup.

“Sepertinya Facebook berpikir bahwa saya sudah meninggal,” keluh seorang pengguna Facebook melalui Twitter.

View image on Twitter
View image on Twitter
Follow
Courtney Enlow ✔ @courtenlow
In the meantime though APPARENTLY FACEBOOK THINKS I’M DEAD.
3:39 AM – 12 Nov 2016
8 8 Retweets 27 27 likes
View image on Twitter
View image on Twitter
Follow
Alexia Tsotsis ✔ @alexia
FB talking to me like I’m already dead
3:25 AM – 12 Nov 2016
11 11 Retweets 46 46 likes
Belakangan, pihak jejaring sosial terbesar di dunia itu mengakui bahwa telah terjadi kesalahan sistem yang menyebabkan Facebook salah mengira sebagian pengguna sudah meninggal, lalu memasang banner Memorial di laman para pengguna tersebut.

Tidak disebutkan apa persisnya yang menyebabkan bug tersebut, ataupun berapa banyak pengguna yang terdampak.

“Ini adalah kesalahan besar yang kini sudah diperbaiki. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya dan bekerja secepat mungkin untuk memperbaiki masalah,” sebut Facebook dalam sebuah pernyataan.

Baca: Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?

Bagaimana dengan Zuckerberg? Dia diketahui masih segar bugar. Sehari sebelumnya, Zuckerberg sempat menyuarakan bantahan terhadap tudingan bahwa berita palsu di Facebook telah membantu memenangkan Presiden AS terpilih, Donald Trump.

Siapa sangka dia sendiri bakal menjadi korban informasi ngawur di jejaring sosialnya itu?

Video iPhone 7 Dipotong dengan Semburan Air

Apple memang merancang iPhone 7 sebagai ponsel yang anti air dan anti guncangan. Tapi seberapa tahan ponsel tersebut jika yang dihadapkan dengan semburan air bertekanan tinggi?

Tim Waterjet Channel menguji ketahanan iPhone 7 tersebut menggunakan alat penyemprot air bertekanan tinggi. Proses unboxing hingga pengujian tersebut pun diunggahnya ke YouTube.

Pantauan KompasTekno, Senin (14/11/2016), alat yang digunakan oleh tim Waterjet Channel disebut waterjet cutter, atau alat penyembur air dalam tekanan tinggi yang biasa digunakan dalam kegiatan industri.

Waterjet cutter biasanya dipakai memotong benda-benda keras, seperti karet, logam, hingga batu mulia. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir efek panas yang diakibatkan saat proses pemotongan.

Sekadar diketahui, tekanan yang dihasilkan oleh waterjet cutter itu bisa mencapai 60.000 psi. Air yang digunakan tidak selalu air murni. Adakalanya air yang disemburkan waterjet cutter ini dicampur dengan partikel tajam, seperti serbuk kristal.

Menghadapi alat semacam ini, tentu saja iPhone 7 sama sekali tidak berdaya. Ponsel anti-air itu seolah menjadi selunak kue bolu, terpotong dengan mudah. Bahkan, tim Waterjet Channel sempat mengatur agar bentuk potongan bisa serupa logo Apple.

Lebih jelasnya, Anda bisa menyaksikan proses pemotongan iPhone 7 menggunakan air di tautan video berikut ini:

Facebook Khawatir Kontennya Benar Pengaruhi Hasil Pemilu AS

CEO Facebook Mark Zuckerberg telah membantah bahwa algoritma News Feed di media sosialnya turut andil memenangkan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Namun tim internalnya berkata lain, bahkan disebut-sebut langsung menggelar rapat khusus masalah ini.

Sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa tim internal Facebook mulai khawatir dengan cara News Feed Facebookn menyajikan konten.

Sejumlah eksekutif Facebook pun merasakan kekhawatiran yang sama. Mereka memutuskan bahwa tim mesti menyelidiki kemungkinan masalah tersebut dan meredakan kekhawatiran yang merebak di kalangan pegawai.

Baca: Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?

Informasi yang dirangkum KompasTekno dari New York Times, Senin (14/11/2016), tiga orang sumber yang enggan disebutkan namanya bahkan mengaku melihat para eksekutif langsung mengadakan rapat kecil dengan tim kebijakan perusahaan.

Seperti diketahui, belakangan ini di dunia maya ramai beredar dugaan Facebook berperan dalam memenangkan Trump. Alasannya adalah filter bubble atau cara kerja algoritma untuk menyajikan konten News Feed.

Algoritma News Feed berusaha menemukan artikel yang memiliki interaksi tinggi, dan menyodorkannya, tak peduli apakah kabar itu berita positif atau negatif. Artinya, bila pengguna mengklik artikel tertentu, dan dianggap menyukainya, maka selanjutnya News Feed bakal menampilkan artikel sejenis.

Algoritma ini bekerja tanpa membedakan apakah artikel yang disodorkan itu fakta atau ternyata keliru.

Soal kemungkinan filter bubble ini juga mendapat tanggapan dari associate profesor di University of North Carolina, Zeynep Tufekci. Dia mencontohkannya dengan keramaian yang terjadi pada sebuah artikel hoax atau palsu.

“Ada sebuah cerita fiktif yang mengklaim Paus Fransiskus mendukung Trump. Cerita itu dibagikan lebih dari sejuta kali, dan diprediksi dilihat oleh lebih dari 10 juta orang,” ujar Zeynep.

“Sementara itu artikel yang mengoreksi cerita fiktif itu sama sekali tidak terdengar. (Melihat hal ini) tentu saja Facebook memiliki pengaruh terhadap hasil Pemilihan Umum Presiden AS lalu,” imbuhnya.

Bantahan Mark Zuckerberg

CEO Facebook Mark Zuckerberg sendiri menulis sebuah status panjang sebagai bantahan dari segala tudingan yang beredar. Menurutnya, artikel hoax yang beredar di jejaring sosialnya sangat sedikit. Bahkan terlalu sedikit untuk memberi pengaruh.

“Dari seluruh konten di Facebook, lebih dari 99 persen yang dilihat orang adalah konten yang otentik. Jumlah berita palsu dan hoax justru sangat kecil. Karena itu, sangat tidak mungkin sebuah hoax bisa mengarahkan hasil Pemilihan Umum,” tulis Mark.

“Saya sangat yakin bahwa kita bisa menemukan cara agar komunitas bisa memberitahukan konten mana yang paling bermakna. Tapi saya juga yakin bahwa kita perlu sangat berhati-hati agar diri kita tidak menjadi orang yang memutuskan kebenaran,” imbuhnya.

Pemeran “Silicon Valley” Diserang karena Menentang Trump

Dua pemeran film serial Silicon Valley, Kumail Nanjiani dan Thomas Middleditch, tiba-tiba dihampiri dua orang pemuda kulit putih berusia 20-an tahun ketika sedang berada di dalam sebuah bar di kota Los Angeles, AS, akhir minggu lalu.

Kedua pemuda tersebut rupanya ingin mengajak berdebat karena tidak suka dengan sikap politik Nanjiani dan Middleditch yang dikenal sebagai penentang Presiden terpilih AS, Donald Trump.

Namun, Nanjiani tak mau melayani ulah mereka. “Hei, kami tidak mau berdiskusi soal politik sekarang,” kicau Nanjiani di Twitter, mengulangi ucapannya malam itu, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari USA Today, Senin (14/11/2016).

Penolakannya malah berbuah ejekan dari kedua pemuda pendukung Trump yang mulai berteriak dan mendekati Nanjiani. Middleditch yang berusaha menghentikan tindakan agresif itu malah diajak berkelahi.

Beruntung, sebelum situasi menjadi makin panas, petugas bar menghampiri mereka, lalu mengusir kedua pemuda tadi ke luar bar.

Silicon Valley adalah serial TV yang ditayangkan di HBO yang bercerita seputar kehidupan startup teknologi di AS. Seperti diketahui, mayoritas perusahaan teknologi di AS memang berseberangan dengan cara pandang Donald Trump selama kampanye.

Baca: 5 Isu yang Dihadapi Perusahaan Teknologi Setelah Trump Jadi Presiden

Berbau rasial

Insiden tersebut diduga dilatarbelakangi rasialisme karena Nanjiani adalah komedian asal Pakistan yang bertampang Asia. Dia besar di kota Karachi, lalu pindah ke AS saat kuliah dan kini memiliki dua kewarganegaraan.

Nanjiani menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi di Los Angeles yang dikenal sebagai kota liberal. Lokasinya pun tidak sepi, tetapi ramai dengan pengunjung ketika itu.

“Saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang yang berpenampilan seperti saya di wilayah lain negeri ini,” ucapnya.

Semenjak Trump memenangi pemilu AS, Rabu pekan lalu, gelombang serangan berbau hate crime yang dilatarbelakangi kebencian berbasis SARA telah melanda Negara Paman Sam.

Para pelakunya disinyalir memperoleh justifikasi dan berani muncul ke permukaan karena menganggap tindakan mereka sesuai dengan pandangan Trump terhadap politik dan masyarakat AS.

Sang presiden terpilih itu memang sering menyuarakan kebencian terhadap golongan minoritas di AS ketika berkampanye.

Taksi Blue Bird Bakal Bisa Dipesan lewat Aplikasi Go-Jek

Kerja sama antara Go-Jek dan Blue Bird nampaknya bakal segera terwujud dalam waktu dekat. Pasalnya, sebuah aplikasi bernama GoBird Driver sudah muncul di toko aplikasi Google Play Store.

Di dalam aplikasi tersebut, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa aplikasi itu merupakan aplikasi khusus pengemudi taksi Blue Bird yang ingin mengambil pesanan dari pengguna aplikasi Go-Jek.

Pantauan KompasTekno, Senin (14/11/2016), aplikasi GoBird Driver dibuat oleh PT Go-Jek Indonesia. Dengan kata lain, aplikasi tersebut besar kemungkinannya adalah aplikasi resmi.

screenshot
Aplikasi GoBird Driver untuk pengemudi taksi Blue Bird yang ingin mengambil pesanan dari pengguna Go-Jek.
Ada juga keterangan yang menyebutkan bahwa pengemudi taksi Blue Bird yang memakainya bisa mengaktifkan atau menon-aktifkan aplikasi sesuka hati. Saat aktif, maka pengemudi bisa menerima pesanan dari pengguna aplikasi Go-Jek.

Namun keterangan di aplikasi GoBird Driver
tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara konsumen melakukan pemesanan, apakah bakal terintegrasi dengan aplikasi Go-Jek atau melalui aplikasi Blue Bird sendiri yang terpisah.

Begitu juga saat KompasTekno, mengecek aplikasi Go-Jek versi 2.9.0 di Android, sama sekali tidak terlihat adanya tombol atau fitur baru. Sedangkan fitur lama yang bisa dipakai memesan kendaraan roda empat untuk penumpang hanyalah Go-Car.
Public Relations Manager Go-Jek, Rindu Ragilia mengonfirmasi bahwa GoBird Driver memang dibuat untuk pengemudi taksi Blue Bird yang nantinya bisa dipesan lewat aplikasi Go-Jek. Menurutnya, aplikasi itu saat ini belum bisa digunakan.

“Aplikasi itu (GoBird Driver) untuk mitra pengemudi Blue Bird yang akan digunakan nantinya ketika layanan kerja sama antara Blue Bird dan Go-Jek sudah jalan. Sekarang masih dalam proses sinkronisasi sistem, nanti kalau sudah mulai jalan kita akan memberikan informasi kepada pelanggan,” terang Rindu saat dihubungi KompasTekno, Senin (14/11/2016).

Sebelumnya, Go-Jek dan BlueBird memang telah menandatangani kesepakatan kerja sama khusus yang diumumkan Mei tahun ini. Kerja sama yang dimaksud dilakukan dalam aspek teknologi, sistem pembayaran, hingga promosi.

Baca: Apa Bentuk Kerja Sama Antara Blue Bird dan Go-Jek

Selain itu, Head of Public Relation Blue Bird, Teguh Wijayanto saat itu mengatakan akan ada kerja sama dalam hal pemesanan kendaraan. Bentuknya berupa sebuah tombol pemesanan taksi Blue Bird yang dimasukkan dalam aplikasi Go-Jek.

Menggandeng Blue Bird merupakan langkah cerdas Go-Jek. Pasalnya Blue Bird sudah memiliki izin operasi sebagai taksi resmi. Mobil-mobilnya pun berplat kuning dan rutin menjalani uji kir. Dua hal itulah yang selama ini masih menjadi perdebatan di layanan ride sharing, seperti Uber, Grab, atau Go-Car milik Go-Jek sendiri.

Di sisi lain, dari segi jumlah pengguna, aplikasi Blue Bird juga masih kalah populer jika dibandingkan dengan Go-Jek. Langkah ini bisa membuat Blue Bird menjangkau para pelanggan Go-Jek.